Oleh: Ahmad Fathullah, M.Pd

Memasuki usia ke-113, Muhammadiyah tidak sekadar merayakan angka, namun menegaskan sebuah perjalanan panjang yang terus meneguhkan komitmen demi kemaslahatan umat dan bangsa. Dengan tema “Menghadirkan Kemakmuran untuk Semua”, momen ini menjadi titik refleksi dan harapan bagi gerakan yang lahir lewat spirit pencerahan.

Kesejahteraan yang Menyeluruh

Kesejahteraan menurut Muhammadiyah dimaknai lebih dari sekadar pertumbuhan ekonomi atau akumulasi materi. Dua ranah utama menjadi pijakan:

Kesejahteraan batin (well-being): kehidupan dengan ketenangan jiwa, penguatan spiritual, hubungan sosial yang bermakna.

Kesejahteraan sosial-material (welfare): akses pendidikan, layanan kesehatan, penguatan ekonomi serta perlindungan sosial.


Sebagaimana disampaikan oleh Haedar Nashir:

“Kemakmuran bukan hanya soal material, tetapi tentang hadirnya kesejahteraan lahiriah dan rohaniah tanpa diskriminasi.”
Dengan demikian, tujuan Muhammadiyah adalah ketika setiap individu memiliki cukup dari sisi lahiriah, namun juga mampu hidup dalam kondisi yang bermakna dan bermartabat.


Dakwah yang Merangkul Realitas

Dakwah dalam perspektif Muhammadiyah tak berhenti pada ungkapan; ia diwujudkan dalam aktivitas nyata sekolah, rumah sakit, pemberdayaan masyarakat, hingga respon kemanusiaan. Organisasi ini menunjukkan bahwa agama dapat bersanding dengan pembangunan manusia, bukan hanya ritual semata.
Langkah-langkah tersebut menunjukkan bahwa dakwah yang berkemajuan bukan hanya soal pengajaran, melainkan pengabdian yang menjangkau dan memperbaiki kehidupan konkret banyak orang.

Nilai Spiritual sebagai Fondasi Ekonomi Berkeadaban

Muhammadiyah berpegang pada nilai-nilai seperti amanah, keadilan, solidaritas dan kemaslahatan. Nilai-nilai ini menjadi landasan untuk membangun ekonomi yang manusiawi bukan sekadar kompetisi bebas. Melalui nilai tersebut, organisasi ini mengarahkan bahwa kemajuan harus berdampingan dengan keadaban.


Seperti Haedar Nashir menegaskan:

“Ada bagian dan mungkin juga banyak bagian yang harus bapak-ibu sumbangkan berupa ilmu, profesi, bahkan bila perlu juga kalau punya penghasilan, ya penghasilan itu dibagi.”
Ketika struktur sosial dan ekonomi menjadi semakin kompleks, maka fondasi etika dan moral menjadi penting agar pembangunan tidak meninggalkan kelompok yang terpinggirkan. Muhammadiyah lewat amal usaha dan gerakannya mencoba menjembatani itu.


Peran Strategis dalam Pembangunan Bangsa

Dengan jaringan yang luas pendidikan, kesehatan, lembaga sosial Muhammadiyah muncul sebagai mitra strategis dalam upaya meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Di tengah tantangan zaman: perubahan teknologi, bencana, ketimpangan organisasi ini hadir sebagai aktor yang bisa menghubungkan kebijakan negara dengan realitas sosial.
Keberadaan lembaga-lembaganya menunjukkan bahwa dakwah bukan sekadar wacana, namun struktur dan aksi nyata yang berdampak di lapangan. Kemitraan yang kuat antara negara, masyarakat, dan organisasi seperti Muhammadiyah menjadi semakin relevan.

Tantangan dan Arah ke Depan

Meski usia telah menginjak 113 tahun, tantangan baru terus muncul. Ketimpangan ekonomi, arus teknologi, perubahan iklim sosial dan politik menuntut adaptasi. Namun, dengan modal nilai, jaringan, dan komitmen yang telah terbangun, Muhammadiyah memiliki potensi untuk tetap relevan dan berkontribusi.
Milad ke-113 bukan sekadar peringatan, melainkan panggilan untuk memperkuat langkah: memperluas kolaborasi, memperdalam pemberdayaan, menjangkau yang belum terjangkau, dan menghadirkan kesejahteraan yang inklusif lahir dan batin.

Penutup

Perjalanan 113 tahun Muhammadiyah adalah catatan panjang pengabdian, inovasi sosial, dan komitmen moral. Kesejahteraan yang diimpikan bukan sekadar angka statistik, namun kehidupan yang bermakna bagi banyak orang yang memiliki akses, martabat, dan peluang. Dakwah yang dijalankan bukan hanya ceramah di mimbar, tetapi layanan yang nyata. Nilai-nilai yang dipegang bukan sekadar slogan, melainkan kerangka etis bagi gerakan berkemajuan.
Semoga Muhammadiyah terus menjadi cahaya yang menerangi jalan bangsa, menebar manfaat dan menghadirkan harapan. Semoga pula setiap individu yang tergerak dalam gerakan ini semakin diperkaya, tidak hanya oleh karya, tapi juga oleh makna.